Belasan Emak-Emak Geruduk Balai Desa Kebanggan, Mengadu Pamsimas Tak Mengalir Selama Dua Bulan

Aryanto
Belasan emak-emak warga desa Kebanggan mendatangi balai desa mengadu Pamsimas tak mengalir selama dua bulan, Jumat (23/10/2026). Foto: Aryanto

PEMALANG, iNewsPemalang.id – Belasan emak-emak mendatangi Balai Desa Kebanggan, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, Jumat (23/10/2026). Mereka mengadukan aliran air dari program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang tidak mengalir ke rumah-rumah warga selama hampir dua bulan.

Terhentinya pasokan air tersebut membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak hingga mandi, cuci, kakus (MCK). Sebagian warga bahkan terpaksa mengambil air dari sungai untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Sekretaris Desa Kebanggan, Iwan (50), mengatakan terhentinya aliran Pamsimas diduga disebabkan menyusutnya sumber air akibat kemarau berkepanjangan.

"Kita semua kan tahu, semua mengalami kekeringan dampak kemarau," kata Iwan saat menemui warga.

Ia menyampaikan, pemerintah desa akan berkoordinasi dengan pengelola Pamsimas untuk mencari jalan keluar. Iwan juga menyatakan warga tidak perlu membayar iuran apabila pasokan air benar-benar tidak mengalir sama sekali.

"Jalan tengahnya, kalau memang air Pamsimas benar-benar tidak mengalir sama sekali, iuran tidak perlu dibayar. Untuk solusinya nanti saya koordinasikan dengan pengelola Pamsimas," ujarnya.

Kemarau dan Ancaman Krisis Air Bersih

Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Pemalang menjadi tantangan bagi warga dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Kecamatan Moga, tetapi juga di sejumlah wilayah Pemalang bagian selatan.

Di Kecamatan Bantarbolang, misalnya, sejumlah sumur warga dilaporkan mengering. Debit air yang tersisa semakin dangkal sehingga tidak lagi mampu menjangkau pompa air.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa berkurangnya ketersediaan air menjadi persoalan serius ketika sumber air warga dan fasilitas penyediaan air bergantung pada kondisi lingkungan serta curah hujan.

Secara meteorologis, musim kemarau berkaitan dengan berkurangnya curah hujan dalam periode tertentu. BMKG menjelaskan bahwa kondisi musim di Indonesia dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer dan iklim, termasuk pergerakan angin monsun serta fenomena iklim global seperti El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD).

Ketika suatu wilayah mengalami periode tanpa hujan yang panjang, air yang masuk ke tanah untuk mengisi kembali cadangan air tanah berkurang. Sementara itu, kebutuhan air masyarakat tetap berjalan. Akibatnya, debit mata air dan sumur dapat menyusut, bahkan mengering, bergantung pada kondisi geologi, kedalaman sumber air, dan karakteristik wilayah setempat.

Namun, penyebab dominan kemarau di Pemalang pada periode ini perlu dipastikan melalui analisis dan informasi resmi BMKG. Tanpa data tersebut, kekeringan yang terjadi tidak dapat langsung dikaitkan dengan satu fenomena iklim tertentu.

Perlu Solusi bagi Warga

Bagi warga Desa Kebanggan, persoalan yang mendesak bukan hanya mengetahui penyebab terhentinya pasokan Pamsimas, tetapi juga memastikan tersedianya air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Koordinasi pemerintah desa dan pengelola Pamsimas diperlukan untuk memeriksa kondisi sumber air, mengevaluasi jaringan distribusi, serta menyiapkan langkah penanganan sesuai kondisi lapangan.

Editor : Aryanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network