Kisah Pemudik Terlantar di Pemalang, Diturunkan di Tengah Jalan

Aryanto
Polisi memberikan bantuan pada pemudik yang terlantar di Pos Gandulan Pemalang, Kamis (19/3/2026). Foto: Istimewa

PEMALANG, iNewsPemalang.idArus mudik mencapai puncaknya. Di tengah riuh kendaraan yang tak henti mengalir, Pos Terpadu Gandulan berdiri sebagai oase bagi para pemudik yang lelah. Di tempat inilah, cerita-cerita perjalanan panjang itu bertemu—sebagian penuh syukur, sebagian lain diwarnai getir yang nyaris putus asa.

Kamis (19/3/2026), satu per satu pemudik turun dari kendaraan. Ada yang sekadar beristirahat, ada pula yang harus melanjutkan perjalanan dengan cara lain. Di antara mereka, sosok Furqon Hidayat (52) berjalan perlahan. Seorang tuna netra dari Jakarta, ia baru saja turun di simpang empat Gandulan—tanpa kepastian bagaimana melanjutkan perjalanan menuju Desa Pamutih, Kecamatan Ulujami.

Namun di tengah keterbatasannya, Furqon menemukan kehangatan yang tak ia duga.

“Alhamdulillah, di sini pelayanannya luar biasa. Dikasih makanan untuk berbuka, ada roti dan minuman,” tuturnya, suaranya menyiratkan kelegaan.

Yang lebih mengejutkan, niatnya menunggu angkutan umum sirna seketika. Petugas justru mengantarnya langsung menggunakan mobil patroli.

“Di luar dugaan. Saya kira harus menunggu elf, ternyata langsung diantar polisi. Masya Allah,” ucapnya, tak menyembunyikan rasa haru.

Di sudut lain pos, kisah berbeda bergulir—lebih getir, lebih sunyi.

Supriyono (46), pemudik asal Padang, Sumatera Barat, bersama istri dan tiga anaknya, harus merasakan pahitnya perjalanan mudik. Pada Rabu malam (18/3), mereka diturunkan dari bus di simpang Gandulan dengan janji akan dipindahkan ke armada lain. Namun harapan itu tak kunjung datang.

Waktu berjalan. Anak-anak mulai lelah. Ketidakpastian menggantung.

“Saat menunggu, kami didatangi petugas dan diajak istirahat ke pos,” katanya.

Tiga hari perjalanan sejak Senin (16/3) telah menguras tenaga mereka. Pos Terpadu Gandulan menjadi tempat pertama mereka benar-benar bisa berhenti.

“Istri dan anak-anak betah di sini. Ada tempat bermain anak, ruang laktasi, juga jajanan,” ujar Supriyono, nada suaranya mulai menghangat.

Di balik kelelahan itu, secercah harapan kembali muncul. Setelah beristirahat, keluarga kecil ini akan diantar menuju terminal untuk melanjutkan perjalanan.

Tak hanya menyediakan tempat singgah, pos ini juga menjadi titik pemulihan bagi tubuh-tubuh yang letih. Tim kesehatan siaga, menawarkan layanan gratis bagi para pemudik.

Sutriyana (43), salah satu pemudik, merasakan langsung manfaatnya.

“Pelayanan ini sangat membantu, apalagi saya sedang sakit asam urat. Perjalanan jauh sangat melelahkan,” katanya.

Baginya, bantuan sederhana itu terasa begitu berarti di tengah perjalanan panjang yang menguras fisik.

Di balik semua kisah itu, Pos Terpadu Gandulan tak sekadar menjadi tempat singgah. Ia menjelma ruang kemanusiaan—lengkap dengan fasilitas istirahat, ruang laktasi, area bermain anak, makanan gratis, hingga layanan kesehatan dan fisioterapi.

Kapolres Pemalang, AKBP Rendy Setia Permana, menegaskan bahwa semua fasilitas ini dihadirkan untuk satu tujuan: memastikan para pemudik bisa melanjutkan perjalanan dengan selamat.

“Pemudik pasti lelah setelah perjalanan panjang. Kami ingin mereka bisa beristirahat dengan nyaman sebelum melanjutkan perjalanan,” ujarnya.

Lebih dari itu, layanan kesehatan juga disiapkan agar kondisi fisik para pemudik kembali prima.

Di tengah padatnya arus mudik, Gandulan bukan sekadar persimpangan jalan. Ia adalah titik temu antara lelah dan harapan—tempat di mana perjalanan panjang menemukan jedanya, dan di mana kemanusiaan hadir dalam bentuk yang paling sederhana, namun paling berarti.

Editor : Aryanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network