Dampak Kemarau, Debit Air Sumur di Pemalang Selatan Menyusut Drastis, Pompa Air Tak Mampu Mengalir

Aryanto
Debit air sumur di Bantarbolang Pemalang mengalami kekeringan, Minggu (11/10/2026). Foto: Istimewa

PEMALANG, iNewsPemalang.id – Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga di wilayah Pemalang bagian selatan. Sejumlah sumur milik warga di Kecamatan Bantarbolang dan Randudongkal dilaporkan mengalami penurunan debit air secara drastis hingga menyebabkan pompa air tidak lagi mampu mengalirkan air.

Kondisi tersebut menjadi persoalan bagi warga yang mengandalkan sumur sebagai sumber utama kebutuhan air bersih sehari-hari. Penurunan debit air yang terjadi di tengah cuaca panas membuat sebagian warga mulai merasakan dampak nyata musim kemarau tahun ini.

Arie, warga Desa Wanarata, Kecamatan Bantarbolang, menuturkan bahwa debit air di sumur miliknya telah menyusut sejak hampir sebulan terakhir. Bahkan, dalam tiga hari terakhir, pompa air di rumahnya tidak lagi mengeluarkan air.

Ia mengaku baru mengetahui kondisi tersebut setelah memeriksa sumurnya dan mendapati permukaan air telah turun cukup jauh.

"Sudah tiga hari pompa air di rumah tak mengalir. Saya cek ternyata debit air dangkal," ujar Arie, Minggu (11/10/2026).

Menurut dia, kondisi kemarau tahun ini terasa lebih berat dibandingkan biasanya. Cuaca panas yang berlangsung membuat warga khawatir sumber air di lingkungan mereka semakin berkurang.

"Kemarau sekarang benar-benar parah, biasanya tak seperti ini. Cuaca sangat terasa panas sekali, mungkin itu juga menyebabkan mata air mengering," imbuhnya.

Bagi warga yang tinggal di wilayah selatan Pemalang, terutama kawasan perbukitan dan pegunungan, ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan yang semakin penting ketika musim kemarau berlangsung. Berkurangnya cadangan air tanah berpotensi mengganggu aktivitas rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci, hingga kebutuhan sanitasi.

Kekeringan yang dirasakan warga tersebut sejalan dengan peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dalam informasi kekeringan meteorologis dasarian pertama Oktober 2026, Kabupaten Pemalang masuk kategori Awas, yakni tingkat peringatan tertinggi dalam pemetaan kekeringan meteorologis BMKG. Peringatan tersebut berlaku untuk periode 1–10 Oktober 2026. 

BMKG juga menyebutkan bahwa kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia pada awal Oktober. Faktor dinamika atmosfer, termasuk El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, turut memengaruhi kondisi atmosfer yang relatif kering dan berpotensi menghambat peningkatan curah hujan secara merata. 

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Pemalang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menangani dampak kekeringan dengan mendistribusikan air bersih ke 30 desa yang tersebar di tujuh kecamatan. Pada pertengahan Juli 2026, jumlah warga terdampak dilaporkan mencapai sekitar 93.250 jiwa. Tujuh kecamatan tersebut meliputi Pulosari, Watukumpul, Randudongkal, Warungpring, Belik, Bantarbolang, dan Bodeh. 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman kekeringan di Pemalang bukan sekadar persoalan berkurangnya debit sumur, tetapi juga menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Warga diimbau menggunakan air secara bijak dan mengantisipasi berkurangnya ketersediaan air bersih selama musim kemarau. Sementara itu, pemerintah daerah diharapkan terus memantau wilayah terdampak serta menyiapkan langkah penanganan apabila sumber air warga semakin menyusut.

Editor : Aryanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network