Pilkades Pemalang 2026: Konvoi Meriah Bukan Jaminan Menang
PEMALANG, iNewsPemalang.id – Suasana menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak Kabupaten Pemalang 2026 mulai memanas. Dukungan terhadap bakal calon kepala desa ditunjukkan dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui arak-arakan massa yang berlangsung meriah.
Fenomena itu juga merambah media sosial. Video konvoi pendukung beredar luas, menampilkan jumlah massa, kendaraan, atribut, hingga semarak dukungan yang kemudian menjadi perhatian warganet.
Salah satu arak-arakan yang belakangan viral terjadi di Desa Bulakan, Kecamatan Belik. Antusiasme massa dalam rombongan tersebut seolah memperlihatkan besarnya dukungan terhadap bakal calon yang diusung.
Namun, kemeriahan di jalan dan viralnya dukungan di media sosial belum dapat dijadikan ukuran kemenangan dalam Pilkades.
Dalam politik desa, kekuatan calon tidak selalu terlihat dari jumlah massa yang berkonvoi atau atribut yang memenuhi ruas jalan. Justru, suara yang tidak terdengar dan tidak terlihat di ruang publik bisa menjadi penentu saat pencoblosan.
Suara Diam Justru Bisa Menentukan
Tidak semua pemilih memilih menunjukkan dukungannya secara terbuka. Sebagian warga tidak ikut konvoi, tidak mengenakan atribut calon, bahkan enggan menyampaikan pilihan politiknya kepada orang lain.
Mereka bisa saja telah menentukan pilihan, tetapi memilih menyimpannya hingga berada di bilik suara.
Kondisi tersebut membuat jumlah massa dalam sebuah arak-arakan tidak otomatis berbanding lurus dengan perolehan suara. Pilkades pada akhirnya ditentukan oleh suara pemilih, bukan oleh seberapa ramai sebuah dukungan terlihat.
Salah satu bakal calon Kepala Desa Bulakan, Kusmanto, menilai arak-arakan pendukung merupakan bagian dari dinamika demokrasi desa yang wajar.
“Bagi kami, fenomena ini merupakan hal yang lumrah saat pesta demokrasi di desa. Warga berhak bergembira. Toh, ini adalah pesta rakyat,” kata Kusmanto.
Menurut dia, kemeriahan dukungan bukan ukuran untuk memastikan kemenangan seorang calon.
“Semua masih proses. Kemenangan tidak ditentukan dari yang ramai atau viral di media sosial. Menang atau kalah nanti ditentukan setelah pemilihan dimulai. Saya percaya masyarakat sudah dapat memilah dan insyaallah bisa memilih dengan hati,” ujarnya.
Kusmanto menegaskan, terlepas dari dinamika dukungan yang berkembang, dirinya lebih mengedepankan niat untuk mengabdi kepada masyarakat.
“Bagi kami yang penting adalah niat yang baik dan tulus untuk mengabdi kepada masyarakat,” tandasnya.
Rekam Jejak Tetap Menjadi Pertimbangan
Pilkades memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan kontestasi politik pada tingkat yang lebih luas. Hubungan personal dan kedekatan sosial masih menjadi bagian penting dalam menentukan pilihan warga.
Editor: Aryanto