Kisah Putri Keraton Pemalang Raden Ayu Sekar Arum dan Dua Tokoh Sakti
Mangoneng datang ke Pemalang untuk menuntut ilmu dan mencari penghidupan. Ia merupakan pendatang yang membawa bekal kemampuan serta tekad untuk menjalani kehidupan di tanah baru.
Mendengar sayembara Sekar Arum, Mangoneng pun tertarik untuk mengikutinya.
Tak disangka, persaingan yang semula menjadi urusan pribadi sang putri akhirnya mempertemukan dua tokoh sakti: Patih Jongsari, putra daerah yang memiliki kedudukan di kerajaan, dan Raden Mangoneng, pendatang dari Madiun.
Pertarungan Sengit di Alun-Alun Kerajaan
Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, hanya dua lelaki yang akhirnya tampil sebagai pesaing utama dalam sayembara tersebut.
Mereka adalah Patih Jongsari dan Raden Mangoneng.
Keduanya kemudian berhadapan dalam sebuah pertarungan di alun-alun keraton. Masing-masing mengandalkan kesaktian dan kemampuan yang dimiliki untuk membuktikan siapa yang paling layak menjadi pendamping Raden Ayu Sekar Arum.
Pertarungan berlangsung sengit. Keduanya mengerahkan tenaga dan ilmu andalan, tetapi tak satu pun menunjukkan tanda-tanda akan menyerah.
Waktu terus berjalan. Pertarungan yang semula berlangsung di lingkungan keraton itu akhirnya bergeser jauh ke selatan, menuju kawasan hutan lebat yang dikenal angker.
Tempat tersebut konon bernama Randu Alas, sebuah kawasan yang dalam cerita rakyat digambarkan begitu wingit hingga orang-orang enggan memasukinya.
Masyarakat masa lampau bahkan mengenal ungkapan jalma mara, jalma mati, yang menggambarkan betapa berbahayanya kawasan tersebut bagi siapa pun yang berani datang.
Di tempat itulah perseteruan Jongsari dan Mangoneng berlanjut.
Keduanya tak kunjung menemukan pemenang. Pertarungan yang berlangsung berjam-jam itu kemudian dikaitkan dengan asal-usul nama Randudongkal, sebuah wilayah di Kabupaten Pemalang.
Legenda tersebut menjadi bagian dari cerita tutur yang menghubungkan perjalanan kedua tokoh dengan sejumlah nama tempat di wilayah Pemalang.
Semingkir, Jejak Perseteruan Dua Tokoh
Setelah pertarungan panjang di kawasan Randu Alas, Jongsari dan Mangoneng bergeser ke wilayah lain.
Keduanya mulai merasakan kelelahan. Mereka perlu mengatur kembali tenaga dan pernapasan sebelum melanjutkan persaingan.
Tempat yang mereka singgahi kemudian dikenal sebagai Semingkir.
Dalam legenda ini, nama tersebut dikisahkan berkaitan dengan tindakan kedua tokoh yang menyingkir dari lokasi pertarungan untuk memulihkan tenaga.
Namun, persaingan mereka belum juga berakhir.
Keinginan untuk membuktikan diri sebagai sosok paling sakti masih menguasai keduanya. Mereka seolah belum menyadari bahwa pertarungan panjang itu tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga menjauhkan mereka dari tujuan yang sesungguhnya.
Di tengah perjalanan, sebuah peristiwa lain kembali mewarnai kisah mereka.
Konon, angin bertiup sangat kencang hingga membawa kedua tokoh itu ke arah utara. Perjalanan yang semula berlangsung di kawasan hutan pun berlanjut ke tempat yang berbeda.
Lenggerong dan Segenthong, Kisah di Balik Nama Tempat
Dalam pengembaraan tersebut, Raden Mangoneng menemukan sebuah kawasan berlumpur di tengah hutan. Di tempat itu terdapat kubangan besar yang bentuknya menyerupai lubang atau gua.
Editor: Aryanto