Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Sijago Merah Lahap Rumah Warga Kendaldoyong, Diduga Dipicu Korsleting Kipas Angin
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Putri Keraton Pemalang Raden Ayu Sekar Arum dan Dua Tokoh Sakti

Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:38 WIB
  • author Aryanto
Kisah Putri Keraton Pemalang Raden Ayu Sekar Arum dan Dua Tokoh Sakti
Putri Keraton Pemalang Raden Ayu Sekar Arum dikenal sangat mencintai rakyatnya. Foto: Ilustrasi/Istimewa

Mangoneng kemudian mengungkapkan bahwa apabila kawasan itu kelak berkembang menjadi permukiman, tempat tersebut dapat dinamai Lenggerong.

Nama itu dalam legenda dikaitkan dengan kata gerong, yang dimaknai sebagai lubang.

Kisah perjalanan keduanya belum berhenti sampai di sana. Setelah melewati berbagai tempat, Jongsari dan Mangoneng kembali terlibat perselisihan.

Pertengkaran mereka berlangsung dengan suara keras hingga membuat burung-burung dan binatang di hutan berhamburan. Kawasan yang dikaitkan dengan peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Sirau.

Di tengah perselisihan itu, Mangoneng merasa kehausan.

Jongsari yang melihat keadaan tersebut kemudian mengambilkan air untuknya. Kebetulan, di sekitar tempat mereka berada terdapat sebuah wadah air menyerupai gentong.

Keduanya meminum air itu hingga rasa haus mereka hilang.

Tempat yang dikaitkan dengan keberadaan wadah air tersebut kemudian dikenal sebagai Sigenthong, yang dalam cerita tutur juga dihubungkan dengan wilayah Seawaka.

Peristiwa sederhana itu menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan kedua tokoh. Di tengah persaingan dan pertengkaran yang tak kunjung selesai, tindakan Jongsari memberikan air kepada Mangoneng menunjukkan bahwa kepedulian masih dapat tumbuh di antara orang-orang yang sedang berselisih.

Meski demikian, keduanya belum sepenuhnya menyadari bahwa persaingan yang mereka jalani telah membawa mereka terlalu jauh.

Dari Perselisihan Menuju Persahabatan

Tiga hari berlalu sejak persaingan itu dimulai.

Jongsari dan Mangoneng telah menjelajahi berbagai tempat, mengerahkan kesaktian, dan menghabiskan tenaga hanya untuk membuktikan siapa yang paling unggul.

Namun, tak satu pun berhasil mengalahkan yang lain.

Di tengah perjalanan, keduanya mulai menyadari sesuatu yang selama ini luput dari pikiran mereka.

Mengapa mereka harus terus bertarung hanya untuk memperebutkan hati seorang perempuan?

Bukankah masih banyak hal yang lebih penting untuk dilakukan daripada mempertaruhkan nyawa demi membuktikan kehebatan diri?

Kesadaran itu perlahan meruntuhkan tembok persaingan di antara keduanya.

Mereka mulai memahami bahwa kekuatan tidak selalu harus dibuktikan melalui pertarungan. Kesaktian yang dimiliki juga tidak akan membawa manfaat apabila hanya digunakan untuk mengalahkan orang lain.

Jongsari dan Mangoneng akhirnya memilih menghentikan perselisihan.

Pertengkaran yang sebelumnya membakar emosi berubah menjadi perbincangan. Dari perbincangan itu, tumbuh kesadaran bahwa mereka tidak harus menjadi musuh hanya karena memiliki tujuan yang sama.

Keduanya pun mulai mengenal satu sama lain sebagai sesama manusia, bukan lagi sebagai lawan yang harus ditaklukkan.

Dalam kisah tersebut, persahabatan mereka lahir setelah melewati perjalanan panjang yang melelahkan. Pengalaman itu mengajarkan bahwa terkadang seseorang baru mampu melihat nilai sebuah hubungan setelah berhenti memaksakan kehendaknya sendiri.

Paduraksa, Simbol Persatuan dan Kebersamaan

Tempat yang menjadi saksi perubahan hubungan antara Jongsari dan Mangoneng itulah yang kemudian dikaitkan dengan asal-usul nama Desa Paduraksa.

Menurut cerita rakyat yang diwariskan masyarakat, nama Paduraksa berasal dari dua unsur kata, yakni padu dan raksa.

Kata padu dimaknai sebagai pertengkaran atau perselisihan, sedangkan raksa dalam penuturan legenda tersebut dihubungkan dengan pengalaman merasakan kenikmatan setelah perselisihan berakhir.

Dari perpaduan makna itulah lahir nama Paduraksa, yang dalam kisah ini menjadi penanda perubahan hubungan dua tokoh: dari perseteruan menuju persahabatan.

Jongsari dan Mangoneng akhirnya menyadari bahwa mereka tidak harus saling menjatuhkan untuk menunjukkan kehebatan masing-masing.

Editor: Aryanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut