Mahira Azkiya Zulfa Borong Dua Emas, Pesilat Cilik Pekalongan Tampil Sempurna
Pada semifinal, ia menghadapi Rubina Haura Kamal dari Kabupaten Pekalongan. Zulfa tampil agresif dan mampu mengendalikan pertandingan hingga menang telak 20-1 dalam dua ronde.
Di partai final, Zulfa kembali menunjukkan dominasinya saat menghadapi Asqila. Pertandingan hanya berlangsung satu ronde. Zulfa sudah unggul 20-0 sehingga laga dihentikan setelah batas perolehan poin tercapai.
Dua pertandingan, dua kemenangan telak: Dua emas pun berhasil dibawa pulang.
Pelatih Zulfa di Tapak Suci Pimda Kota Pekalongan, Aris Murando, mengatakan keberhasilan itu tidak hanya dibangun melalui latihan teknik.
“Persiapannya cukup latihan tiap hari. Selain latihan juga kita memberikan latihan mental, pendekatan, chemistry dan lain-lain,” kata Aris.
Mental bertanding tersebut terlihat jelas ketika Zulfa berada di arena. Ia tampil tenang, percaya diri dan minim keraguan meski menghadapi lawan dalam pertandingan kompetitif.
Tekuni Taekwondo dan Pencak Silat Bersamaan
Kemampuan Zulfa di arena juga terbentuk dari pengalaman menekuni dua cabang bela diri sekaligus.
Ia mulai belajar taekwondo sejak usia lima tahun. Dua tahun kemudian, saat berusia tujuh tahun, Zulfa mulai serius berlatih pencak silat.
Keduanya tidak ditinggalkan. Dalam kondisi normal, Zulfa berlatih taekwondo tiga kali sepekan pada sore hari dan pencak silat tiga kali sepekan pada malam hari.
Menurut Aris, pengalaman di taekwondo ikut membantu Zulfa ketika bertanding dalam pencak silat. Kelenturan kaki membuatnya lebih leluasa melakukan tendangan dan berbagai gerakan kaki.
Namun, selama sekitar empat bulan terakhir Zulfa sementara berhenti berlatih taekwondo atas saran dokter agar tidak terlalu kelelahan. Sementara latihan pencak silat tetap dijalani tiga kali dalam sepekan.
Awalnya Hanya Ingin Berlatih
Di balik prestasi tersebut, Zulfa ternyata tidak sejak awal membidik podium.
Editor : Aryanto