Mahira Azkiya Zulfa Borong Dua Emas, Pesilat Cilik Pekalongan Tampil Sempurna

Aryanto
Mahira Azkiya Zulfa, pesilat cilik asal Pekalongan raih dua medali emas. Foto: Istimewa

PEKALONGAN, iNewePemalang.id – Usianya baru 10 tahun, tetapi keberanian Mahira Azkiya Zulfa di gelanggang sudah mencuri perhatian. Turun di dua kategori berbeda, pesilat cilik asal Kota Pekalongan itu sukses menyapu bersih dua medali emas dalam Penjas UMPP Pencak Silat Open Championship 5, 2026.

Zulfa, sapaan akrabnya, menjadi juara pada kategori seni tunggal tangan kosong putri usia dini sekaligus laga Kelas A putri. Prestasi itu terasa istimewa karena ia menjadi satu-satunya peserta yang tampil di dua kategori tersebut.

Kejuaraan yang digelar di GOR Abirawa, Kabupaten Batang, pada 21-22 Agustus 2026 itu diikuti sekitar 392 atlet dari 30 perguruan pencak silat.


Mahira Azkiya Zulfa (10) tampil memukau di laga Penjas UMPP Pencak Silat Open Championship 5, 2026. Foto: Istimewa
Tampil Paling Akhir, Zulfa Tetap Tenang

Pada kategori seni tunggal tangan kosong putri usia dini, Zulfa harus bersaing dengan 15 peserta yang terbagi dalam empat pool. Ia mendapat giliran tampil paling akhir.

Menunggu seluruh peserta lain menyelesaikan penampilan tak membuat konsentrasinya buyar. Begitu memasuki arena, Zulfa langsung menunjukkan ketenangannya.

Tatapan matanya tajam. Gerakan tangan dan kaki berpadu dalam tempo cepat dan lambat. Liukan tubuhnya mengikuti rangkaian jurus dengan gerakan yang tampak lembut, namun tetap bertenaga.

Dalam penampilan selama 1 menit 20 detik, Zulfa mengumpulkan nilai 9.775.

Nilai tersebut sama dengan Agustina Anundya Salma dari Ponpes Darul Ilmi Gapura yang menempati posisi runner-up. Zulfa akhirnya berhak atas medali emas.

Emas Kedua Diraih Lewat Laga Singkat

Belum selesai dengan nomor seni, Zulfa kembali masuk gelanggang untuk memburu emas kedua.

Di kategori laga Kelas A putri, hanya ada empat pesilat. Zulfa harus melewati semifinal dan final.

Pada semifinal, ia menghadapi Rubina Haura Kamal dari Kabupaten Pekalongan. Zulfa tampil agresif dan mampu mengendalikan pertandingan hingga menang telak 20-1 dalam dua ronde.

Di partai final, Zulfa kembali menunjukkan dominasinya saat menghadapi Asqila. Pertandingan hanya berlangsung satu ronde. Zulfa sudah unggul 20-0 sehingga laga dihentikan setelah batas perolehan poin tercapai.

Dua pertandingan, dua kemenangan telak: Dua emas pun berhasil dibawa pulang.

Pelatih Zulfa di Tapak Suci Pimda Kota Pekalongan, Aris Murando, mengatakan keberhasilan itu tidak hanya dibangun melalui latihan teknik.

“Persiapannya cukup latihan tiap hari. Selain latihan juga kita memberikan latihan mental, pendekatan, chemistry dan lain-lain,” kata Aris.

Mental bertanding tersebut terlihat jelas ketika Zulfa berada di arena. Ia tampil tenang, percaya diri dan minim keraguan meski menghadapi lawan dalam pertandingan kompetitif.

Tekuni Taekwondo dan Pencak Silat Bersamaan

Kemampuan Zulfa di arena juga terbentuk dari pengalaman menekuni dua cabang bela diri sekaligus.

Ia mulai belajar taekwondo sejak usia lima tahun. Dua tahun kemudian, saat berusia tujuh tahun, Zulfa mulai serius berlatih pencak silat.

Keduanya tidak ditinggalkan. Dalam kondisi normal, Zulfa berlatih taekwondo tiga kali sepekan pada sore hari dan pencak silat tiga kali sepekan pada malam hari.

Menurut Aris, pengalaman di taekwondo ikut membantu Zulfa ketika bertanding dalam pencak silat. Kelenturan kaki membuatnya lebih leluasa melakukan tendangan dan berbagai gerakan kaki.

Namun, selama sekitar empat bulan terakhir Zulfa sementara berhenti berlatih taekwondo atas saran dokter agar tidak terlalu kelelahan. Sementara latihan pencak silat tetap dijalani tiga kali dalam sepekan.

Awalnya Hanya Ingin Berlatih

Di balik prestasi tersebut, Zulfa ternyata tidak sejak awal membidik podium.

“Saya senang ikut silat dan taekwondo. Awalnya cuma ingin ikut latihan saja, bukan untuk ikut kejuaraan atau lomba,” ujar Zulfa.

Ketertarikannya terhadap bela diri bermula saat berusia lima tahun. Ketika itu, ia melihat latihan taekwondo di GOR Jetayu Kota Pekalongan.

Zulfa kemudian meminta sendiri kepada sang ayah, Mukhtarom, agar diperbolehkan mengikuti latihan.

“Dia bilang ke saya minta ikut latihan. Ya sudah saya daftarkan,” kata Mukhtarom.

Saat bersekolah di SD Muhammadiyah Noyontaan, Zulfa kemudian mengenal pencak silat melalui kegiatan ekstrakurikuler. Ketertarikan itu berlanjut hingga ia bergabung dengan Perguruan Tapak Suci Muhammadiyah Pimda Kota Pekalongan.

Di sana, Zulfa mendapat gemblengan dari Aris Murando, Bintang Saputera dan Wida. Latihan rutin digelar tiga kali dalam sepekan di kompleks Panti Asuhan Muhammadiyah Noyontaan.

Empat Kali Bertanding, Empat Kali Juara

Dua emas dari Penjas UMPP Pencak Silat Open Championship 5 menambah panjang catatan prestasi Zulfa.

Sebelumnya, ia meraih emas pada UMPP Open Pencak Silat 2025 di GOR Jetayu. Pada tahun yang sama, Zulfa juga menjadi juara pertama UIN Gusdur Taekwondo Competition di Kampus UIN Gusdur Pekalongan.

Dengan demikian, empat kali mengikuti kejuaraan taekwondo dan pencak silat, empat kali pula Zulfa berdiri sebagai juara pertama.

“Senang bisa dapat medali emas. Sekarang total ada empat medali emas dikoleksi,” katanya.

Menariknya, kesibukan berlatih dan bertanding tidak membuat prestasi akademiknya tertinggal. Sejak kelas 1 hingga kelas 4 SD, Zulfa konsisten berada di posisi tiga besar di kelas.

Matematika menjadi pelajaran favoritnya

Namun, ketika ditanya soal cita-cita, Zulfa tidak menyebut ingin menjadi atlet. Ia justru bercita-cita menjadi dokter.

Sang ayah, Mukhtarom, berharap putrinya mampu mempertahankan keseimbangan antara prestasi olahraga dan pendidikan.

“Alhamdulillah setiap pertandingan selalu dapat medali emas, semoga terus semangat dan prestasi di dalam kelas juga ikut melejit,” ujarnya.

Dari Gelanggang untuk Menemukan Bibit Baru

Penjas UMPP Pencak Silat Open Championship 5 tidak hanya menjadi panggung bagi pesilat usia dini. Kejuaraan tersebut juga mempertandingkan peserta tingkat SD, SMP, SMA/SMK hingga kategori umum.

Wakil Rektor UMPP Aslam Fatkhudin mengatakan kejuaraan tahun kelima tersebut diikuti sekitar 392 atlet dari 30 perguruan pencak silat.

Menurut dia, ajang tersebut tidak sekadar menjadi kompetisi, tetapi juga bagian dari upaya memperkenalkan pencak silat sebagai budaya bangsa sekaligus menemukan bibit-bibit atlet potensial.

“Barangkali bisa dimanfaatkan oleh Pemda setempat untuk bisa dikirim ke tingkat lebih tinggi, misalnya kejuaraan tingkat provinsi, nasional, bahkan sampai internasional,” kata Aslam.

Ketua IPSI Kota Pekalongan Fauzi Umar Lahji menilai penyelenggaraan kejuaraan selama lima tahun mulai memperlihatkan hasil. Sejumlah pesilat muda potensial bermunculan dari Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Batang, Tegal dan daerah sekitarnya.

Di tengah geliat pencarian bibit tersebut, nama Mahira Azkiya Zulfa menjadi salah satu yang menonjol.

Di usia yang masih belia, ia sudah menunjukkan satu hal penting: keberanian untuk masuk gelanggang, bertanding, dan pulang membawa kemenangan.

Editor : Aryanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network